tagline

Berat Badan Dan Nasib

Suatu waktu, Ali berencana berangkat ke Singapura dengan pesawat pukul 2 siang nanti. Ia sudah 'check in' pada pukul 12 siang tadi. Dua jam cukup lama untuk menunggu pesawat yang akan membawanya ke tempat tujuan. Ia mengisi waktu keliling bandara agar tidak terasa membosankan. 

Tanpa sengaja pandangan matanya tertuju pada sebuah timbangan badan. Bukan karena bentuknya yang indah atau bahkan antik. Ia penasaran, karena pada satu sisi benda tersebut bertuliskan Berat Badan dan Nasib Anda. 

 

Kemudian ia menghampiri benda itu. Setelah memperhatikan timbangan itu baik-baik, ia membatin, "Ah mana mungkin ada kaitan antara berat badan dan nasib? Benda ini juga nampaknya sama sekali tidak istimewa." Tetapi ia penasaran ingin mencoba. Lalu dikeluarkannya sekeping uang koin senilai Rp. 500,- dan memasukkannya. Tiba-tiba, "Tong," bunyi timbangan itu lalu menyembulkan selembar kertas putih. 

 

Ali benar-benar terperanjat tatkala membaca rangkaian huruf di atas kertas itu. Disana dituliskan; " Nama Anda Ali. Berat badan Anda 60 kg. Anda sedang menunggu pesawat ke Singapura pada jam 2 sore." 

 

"Mana mungkin timbangan badan bisa tahu siapa saya?" bisiknya dalam hati. Iapun ingin mencoba sekali lagi. Ia ingin lebih memastikan apakah timbangan badan itu benar-benar dapat mendeteksi siapa dirinya hanya berdasarkan berat badan. Setelah memasukkan koin Rp. 500,- lagi, lalu "Tong !" Tersembul lagi selembar kertas, bertuliskan; "Nama Anda Ali. Berat badan Anda 60 kg. Anda sedang menunggu pesawat ke Singapura pada jam 2 sore." 

Meskipun ia sudah dua kali berturut-turut menguji timbangan badan itu dan hasilnya sama, tetapi Mohammad Ali tidak langsung setuju bahwa benda itu benar-benar dapat mendeteksi siapa dirinya dan kemana arah tujuannya. Dalam hati ia berkata, "Pasti ada orang yang ingin mencoba mempermainkan saya! Biar saya sekarang mempermainkan dia!" 

 

Langsung saja ia menyusun rencana. Ia pergi ke toko pakaian, membeli sepotong pakaian wanita, sepasang sepatu, dan sebuah rambut palsu. Ia mengenakan semua itu dan berlagak seolah-olah ia wanita tulen. Ia sangat yakin bahwa kali ini timbangan badan itu tidak akan dapat mengenali dirinya lagi. 

Muhammad Ali segera memasukkan sekeping uang koin senilai Rp. 500, dan menunggu mesin itu menyembulkan selembar kertas. Saat mesin berbunyi, "Tong!" Ali buru-buru membacanya. Kali ini isi tulisan di kertas itu berbeda, yaitu; 

"Nama Anda TETAP Ali, Berat Anda TETAP 60 kg. Tapi pesawat Anda ke Singapura jam 2 sore sudah berangkat!". 

 

Anda mungkin berpikir, ah, kisah Ali ini hanya rekaan semata, tapi pernahkah Anda berpikir bahwa Ali adalah personifikasi yang melupakan tujuannya datang ke bandara itu hanya untuk menguji keakuratan hasil mesin penimbang berat badan. Malahan Ia kehilangan banyak waktu untuk hal-hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan tujuannya semula yaitu pergi ke Singapura. Sehingga ia benar-benar ketinggalan pesawat yang akan membawanya ke negri singa putih itu. 

 

Alpha Media

 

Apa yang menimpa Ali sebenarnya hanyalah cermin bagi kita untuk tidak melupakan tujuan utama. Kita seringkali menghabiskan banyak waktu dengan hal-hal yang menyenangkan tetapi sama sekali tidak bermanfaat untuk mencapai tujuan kita. Jangan membiarkan kesenangan-kesenangan kecil menghabiskan banyak waktu kita. Karena waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali lagi. "Lost time is never found again. - Kehilangan waktu tidak akan bisa kita temukan lagi," kata Benjamin Franklin. Utamakan menyelesaikan hal-hal yang penting, karena hanya dengan cara itu kita akan berhasil mencapai tujuan yang kita maksud. 

"Lost time is never found again. - Kehilangan waktu tidak akan bisa kita temukan lagi," ~~ Benjamin Franklin.

Johan Yan
Direktur Utama